Moga Bunda Disayang Allah

Saturday, December 18, 2010

Senyap. Gelap. Hitam. Melati menatap ke arah jutaan kunang-kunang yang terbang.

Sayang, gadis kecil itu tidak akan pernah melihatnya……

Melati, bocah berumur enam tahun yang menggemaskan, berambut ikal, berpipi tembam, bermata hitam bagai buah leci, yang seharusnya bisa bermain, bisa melihat indahnya kehidupan, tapi tidak baginya. Dia hanya melihat gelap, tidak ada warna. Dia hanya mendengar senyap, tidak ada suara.

Setelah piring terbang, brisbee, menghantam dahinya, putus semua kesenangan. Liburan yang menyenangkan di Palau, Mikronesia berakhir dengan amat menyakitkan. Saat itu, Melati masih berusia tiga tahun, masih lucu-lucunya. Tapi, sejak saat itu, keterbatasan Melati mulai datang satu per satu. Melati pelan-pelan mulai buta. Seminggu kemudian, melati juga mulai tuli. Belum cukup. Melati juga kehilangan semua pengetahuan yang pernah dipelajarinya selama ini.

Bunda, seorang ibu yang baik, sangat sabar, tidak pernah berhenti berdo’a, berharap keajaiban Tuhan datang. Berbagai cara dilakukan. Tim dokter dari rumah sakit ternama ibu kota pun sudah didatangkan. Tapi, tak ada hasilnya. Kondisi Melati malah memburuk. Setiap hari mengamuk, menggerung. Melempar apa saja di sekitarnya. Pecah. Hingga Bunda yang mulai sakit-sakitan, lelah memikirkan keterbatasan putri semata wayangnya, hampir putus asa.

Sampai suatu ketika, pertolongan itu datang. Janji Allah, bahwa di balik kesulitan itu ada kemudahan, benar-benar datang. Lewat Karang, pemuda yang sangat mencintai anak-anak, yang bisa merasakan sentruman itu, kejaiban itu datang.  Melalui proses yang rumit dan panjang. Pengalaman pahit, meninggalnya 18 anak kecil di lautan luas, mengambang beku, sempat membuat pemuda itu jatuh dalam keterpurukan, terkungkung oleh rasa bersalah. Sampai, cahaya perubahan itu datang kembali. Karang berjanji akan membantu Melati. Melawan keterbatasannya. Menunjukkan pada semua orang bahwa Tuhan itu adil.

Sungguh novel yang mengharukan, diangkat dari kisah nyata, yang membuat hati ini menangis. Novel ini sarat makna, dengan bahasa yang unik, membawa pembaca larut dalam kisah novel, juga ada sisi humornya.

Membaca novel ini, membuat kita semakin bersyukur. Melati dengan keterbatasannya, buta, tuli, bisu, yang seakan terputus dari dunia karena tak ada alat berkomunikasi, harus membayar mahal untuk bisa mendengar, melihat indahnya dunia. Melati terjatuh berkali-kali. Sakit demam. Sampai tubuhnya luka-luka terkena pecahan tembikar. Melati harus melewati proses belajar yang sulit, menyakitkan Tapi, ada kekuatan dalam diri Melati, ada harapan, ada semangat yang membuncah untuk mengetahui segala hal. Sementara kita?

Novel ini juga membuat kita lebih mencintai Allah dan hamba-hamba-Nya. Ada hikmah di balik semua krisis itu. Saat musibah datang mencekik, saat diri terlalu lelah, saat asa seakan sirna, tetaplah berpikir positif kepada-Nya. Berikan usaha yang terbaik. Jauh di atas segalanya, Allah telah merajut yang terbaik untuk hamba-Nya.

Akan lebih menyentuh jika Anda membaca sendiri novel ini. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh masyarakat luas. Semoga kita akan semakin mengerti hakikat kebahagiaan itu. Dan menjadi hamba yang senantiasa mencintai sesama kerena-Nya.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : University Reference Gate | Online Learning Community | OL Community
Copyright © 2009 - 2012. Online Learning Community - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Uniregate
Proudly powered by Blogger